Disabilitas

Perspektif Teologi Tubuh Yohanes Paulus II

 

Disabilitas sering kali dipandang semata-mata sebagai keterbatasan, kekurangan, atau bahkan penderitaan yang harus “diperbaiki”. Pandangan semacam ini tidak jarang melahirkan sikap belas kasihan yang berlebihan, diskriminasi terselubung, atau eksklusi sosial. Dalam konteks iman Kristiani, disabilitas pun kadang disalahartikan sebagai tanda kelemahan iman, cobaan Ilahi, atau konsekuensi dari dosa. Cara pandang tersebut menunjukkan betapa pentingnya suatu refleksi teologis yang lebih utuh dan berakar pada pemahaman yang benar tentang martabat manusia. Melalui ajarannya, Yohanes Paulus II menegaskan bahwa tubuh manusia bukan sekadar realitas biologis, melainkan bahasa teologis yang mengungkapkan pribadi manusia secara utuh. Tubuh adalah sarana pewahyuan diri, tempat perjumpaan antara yang Ilahi dan yang insani, serta tanda konkret dari martabat manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (imago Dei). Dengan demikian, setiap tubuh termasuk tubuh yang mengalami disabilitas memiliki nilai, makna, dan tujuan yang luhur di hadapan Allah.

Karya

Fabianus Selatang, S.S., M.Hum.

ISBN-
PenerbitNafal Publishing
Halamanx + 78
HargaRP 175.000